Masa Kejayaan Kerajaan Tarumanegara : Sumber dan Peninggalan Sejarah

Masa Kejayaan Kerajaan Tarumanegara : Sumber dan Peninggalan Sejarah – Dimanakah letak Kerajaan Tarumanegara?dan siapakah Raja yang paling berpengaruh membawanya dalam masa kejayaan?Pada kali ini kita akan membahas salah satu kerajaan yang pernah ada di negeri kita  ini.Mari kita simak untuk lebih mengetahuinya.

Masa Kejayaan Kerajaan Tarumanegara : Sumber dan Peninggalan Sejarah


Latar belakang terbentuknya kerajaan ini erat kaitannya dengan keruntuhan Kerajaan Salakanegara.Berdasarkan naskah Wangsakerta dari Cirebon, diketahui bahwa Kerajaan Tarumanegara didirikan oleh Rajadirajaguru Jayasingawarman sekitar tahun 358 – 450 M. Kerajaan awalnya bermula dari sebuah kerajaan kecil ditepi sungai Gomati dan Candrabaga atau saat ini kita kenal dengan daerah Bekasi.

Awal Sejarah

Informasi yang didapat dari naskah Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawadwipa parwa I sarga 1, halaman 771, antara lain sebagai berikut:

Di negeri India dua keluarga atau dua kerajaan yaitu keluarga Calankayana dan Pallawa telah dikalahkan dalam perang oleh Samudragupta Maharaja Maurya. Sang Gupta kemudian menjadi yang paling berkuasa di India. Perangai tidak layak, kejam tidak mengenal belas kasihan terhadap musuh yang telah dikalahkannya. Oleh lantaran itu keluarga, para pembesar dan penduduk dari kedua kerajaan yang kalah perang itu berupaya melarikan diri mencari keselamatan.

Perang itu terjadi pada tahun 267 Saka (345 Masehi). Adapun maharaja Maurya itu, bergelar Samudragupta Mahaprabawa Raja Magada, yang besar kotanya. Sedangkan Raja Calankayana, bergelar Maharaja Hastiwarman dan Raja Pallawa, bergelar Maharaja Wisnugopa. Kedua raja ini bersahabat bersahabat dan bersatu, kemudian bersama‑sama menyerang musuhnya (Samudragupta). Perang itu, berlangsung beberapa bulan lamanya. Akhirnya, kerajaan Pallawa dan Calankayana kalah. Kerajaan Maurya, memperoleh kemenangan.

Walaupun rajanya telah kalah, tetapi kerajaannya tidak hilang. Hanya saja, yang kalah, menjadi bawahan sang pemenang. Semua penduduk Pallawa dan Calankayana, sangat menderita dan banyak yang tewas, lantaran sang penguasa, yaitu raja Gupta, banyak membunuh orang‑orang yang tak berdosa. Telah banyak, tentara dan pemuka negara yang kalah, tewas di medan perang.

Oleh sebab itu, di kota‑kota negara yang kalah perang, merajalela kaum perampok. Sedangkan raja yang menderita kekalahan, beserta keluarga, pengiring dan para pembesar lainnya, bersembunyi masuk ke dalam hutan atau gunung. Ada juga yang bersama keluarga dan pengiringnya, pergi ke seberang laut, yaitu ke Semenanjung, Pulau Jawa, Pulau Sumatera, Negeri Yawana, dan sebagainya.

Salah satu kelompok keluarga Pallawa, yang mengungsi ke Pulau Jawa, dipimpin oleh Darmawirya, kelak sehabis menikah dengan Rani Sphatikarnawa Warmandewi, menjadi Dewawarman Vlll (raja terakhir Salakanagara). Keluarga Hastiwarman dan Wisnugopa, tersebar ke aneka macam negara, terutama yang dahulu menjadi teman keluarga mereka. Dinasti Warman (warmanwamca), alhasil banyak yang menjadi raja di Nusantara, dan negara-negara lainnya.

Masa Kejayaan Kerajaan Tarumanegara : Sumber dan Peninggalan Sejarah

Sumber – Sumber Sejarah

Keberadaan Tarumanegara mampu diketahui dari sumber sejarah baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Sumber dari dalam negeri berasal dari prasasti yang ditemukan di Bogor sebanyak empat buah, di Jakarta satu buah serta di Lebak Banten satu buah. Sedangkan sumber dari luar negeri berasal dari gosip Tiongkok oleh para pengelana, diantaranya :
Berita Fa Hien yang berangka tahun 414 M, dalam catatannya yang berjudul Fa-Kao-Chi menyebutkan adanya kawasan Ye-Po-Ti terdapat orang – orang beragama Hindu dan sebagian beragama animisme.
Berita Dinasti Sui, yang menyebutkan pada periode 528 dan 535 M utusan dari To-Lo-Mo yang terletak di selatan (Cina) tiba ke Tiongkok
Berita Dinasti Tang, yang menyebutkan bahwa pada 666 dan 669 M tiba utusan dari To-Lo-Mo
Dari gosip tersebutdapat disimulkan bahwa kata To-Lo-Mo mengerucut pada Tarumanegara atas pembiasaan fonetis. Hal ini mampu disimpulkan bahwa Kerajaan Tarumanegara berkembang dari tahun 400 hingga 600 M.

Naskah Wangsakerta

Pada Naskah Wangsakerta dari Cirebon, Kerajaan Tarumanegara didirikan oleh Rajadirajaguru Jayasingawarman pada tahun 358 M, yang kemudian digantikan oleh putranya, Dharmayawarman (382-395 M). Jayasingawarman dipusarakan di tepi kali Gomati, sedangkan putranya di tepi kali Candrabaga.

Dalam tahun 270 Saka (348 Masehi), ada seorang Maharesi (bernama Jayasingawarman) dari Calankayana. Bersama pengikutnya (sebagai pengiring), tentara, penduduk laki-laki dan wanita, ikut melarikan diri. Mengungsi ke pulau‑pulau di sebelah selatan, lantaran pihak musuh, selalu berusaha menangkap mereka.

Sang Maharesi Jayasingawarman bersama para pengikutnya, tiba di Pulau Jawa dan menetap di Jawa Kulwan (barat). Di sebelah barat Sungai Citarum, Sang Maharesi mendirikan perdukuhan, yang kemudian diberi nama Tarumadesya. Wilayah ini (Taruma‑desya), termasuk kawasan kekuasaan Sang Prabu Dewawarman VIII. Kelak, Sang Maharesi Jayasingawarman menjadi menantu Sang Prabu Dewawarman VIII.[6]

Kira-kira sepuluh tahun kemudian, desa itu menjadi besar, lantaran banyak penduduk dari desa-desa lain, tiba dan menetap di situ. Beberapa tahun kemudian, desa Taruma itu, telah menjadi nagara. Jayasingawarman terus berusaha, memperbesar negaranya, hingga menjadi sebuah kerajaan, kemudian diberi nama: Tarumanagara. la kemudian menjadi Rajadirajaguru yang memerintah kerajaannya, bergelar Jayasingawarman Gurudarmapurusa.

Sang Maharesi Rajadirajaguru menjadi Raja Tarumanagara selama 24 tahun, yaitu dari tahun 280 hingga 304 Saka (358‑382 Masehi). la wafat dalam usia 60 tahun, dan dipusarakan di tepi kali Gomati. la digantikan putera sulungnya yang berjulukan Rajaresi Darmayawarmanguru. Ia bergelar demikian, lantaran selain memegang pemerintahan Tarumanagara, ia pun menjadi pemimpin semua guru agama (Hindu).[6]

Tetapi penduduk di desa‑desa kerajaan Taruma, banyak yang tetap menganut pemujaan roh, yaitu memuja roh leluhur (pitampuja) berdasarkan adat yang diwarisi dari nenek moyangnya. Sang Rajaresi, selalu berusaha mengajarkan agamanya kepada penghulu desa‑desa dan penduduk Tarumanagara. Oleh lantaran itu, Sang Rajaresi mendatangkan brahmana-brahmana dari India. Walaupun demikian, tidak semua penduduk mau mengikuti agamanya.

Baca Juga:  √ Sejarah Lahirnya Ilmu Sosiologi dan Para Penemunya (Lengkap)

Waktu itu, kehidupan penduduk dijadikan empat kasta, yaitu: yang pertama kasta Brahmana, yang kedua kasta Ksatriya, yang ketiga kasta Waisya, dan yang keempat kasta Sudra. Dengan demikian, penduduk itu dibeda‑bedakan antara golongan Nista‑Madya ‑ Utama. Penduduk golongan nista, sangat takut terhadap agama Sang Rajaresi.

Darmayawarmanguru menjadi Raja Tarumanagara hanya 13 tahun, dari tahun 304 hingga tahun 317 Saka (382-395 Masehi). la disebut juga Sang Lumahing Candrabaga (yang mendiang di Candrabaga), lantaran ia dipusarakan di tepi kali Candrabaga (Cibagasasi atau kali Bekasi). Rajaresi Darmayawarmanguru, digantikan oleh puteranya, yang berjulukan Sang Purnawarman, yang memerintah dari tahun 317 hingga tahun 356 Saka (395‑434 Masehi).

Relief TarumanagaraPurnawarman, dilahirkan tanggal 8 potongan gelap bulan Palguna tahun 294 Saka (16 Maret 372 Masehi). Dua tahun sebelum ayahnya wafat, ia diangkat sebagai Raja Tarumanagara ketiga, pada tanggal 13 potongan terang bulan Caitra tahun 317 Saka (12 Maret 395 Masehi). Ayahnya, Rajaresi Darmayawarman, mengundurkan diri dari tahta kerajaan, untuk hidup di pertapaan menempuh manurajasunya (bertapa sehabis turun tahta hingga maut tiba).

Tindakannya yang pertama, ialah memindahkan ibukota kerajaan, ke sebelah utara ibukota lama, yang disebut Jayasingapura yang didirikan oleh kakeknya, Jayasingawarman. Ibukota yang gres itu, diberi nama Sundapura (kota Sunda), dibangun di tepi kali Gomati pada tahun 397 M.

Kira‑kira tiga tahun sehabis ia dinobatkan, Purnawarman menciptakan pelabuhan di tepi pantai. Pembuatannya, dimulai tanggal 7 potongan terang bulan Margasira (15 Desember 398 Masehi) dan selesai pada tanggal 14 potongan terang bulan Posya (11 November 399 Masehi). Pelabuhan ini, segera menjadi ramai, oleh kapal-kapal perang kerajaan Tarumanagara.

Selama masa pemerintahannya, Purnawarman telah menaklukan kerajaan-kerajaan lain di Jawa Barat, yang belum tunduk kepada kekuasaan Tarumanagara. Semua musuh yang diserangnya, selalu mampu dikalahkan. la seorang pemberani, menguasai aneka macam ilmu dan siasat berperang, yang menjadikan dirinya, sebagai seorang raja yang perkasa dan dahsyat (bhimaparakramoraja).

Tidak ada satupun senjata musuh yang mampu melukainya, lantaran dalam perang, ia selalu mengenakan baju pelindung dari besi yang dipasangnya mulai dari kepala hingga ke kaki. la perkasa dan tangkas di medan perang, sehingga oleh lawan‑lawannya, digelari Harimau Tarumanagara (wyaghra ring tarumanagara).

Pada tahun 417 M, ia memerintahkan penggalian Sungai Gomati dan Candrabaga (Kali Bekasi) sepanjang 6112 tombak (sekitar 12 km). Selesai penggalian, sang maharaja mengadakan selamatan dengan menyedekahkan 1.000 ekor sapi kepada kaum Brahmana.

Sebagai pengganti Sri Maharaja Purnawarman, putera sulungnya, Sang Wisnuwarman, dengan gelar: Sri Maharaja Wisnuwarman Digwijaya Tunggal Jagatpati Sang Purandarasutah. la dinobatkan menjadi Raja Tarumanagara keempat, pada tanggal 14 potongan terang bulan Posya tahun 365 Saka (3 Desember 434 Masehi). Memegang pemerintahan di Tarumanagara hingga tahun 377 Saka (455 Masehi).

Digantikan oleh puteranya, Sang Indrawarman, sebagai Raja Tarumanagara kelima, dengan gelar: Sri Maharaja Indrawarman Sang Paramarta Sakti Mahaprabawa Lingga Triwikrama Buanatala. la memerintah di Tarumanagara hingga tahun 437 Saka (515 Masehi).

Digantikan oleh puteranya, Sang Candrawarman, sebagai Raja Tarumanagara keenam, dengan gelar: Sri Maharaja Candrawarman Sang Hariwangsa Purusakti Suralagawageng Paramarta. la memerintah di Tarumanagara hingga tahun 457 Saka (535 Masehi).

Digantikan oleh puterannya, Sang Suryawarman, sebagai Raja Tarumanagara ketujuh, dengan gelar: Sri Maharaja Suryawarman Sang Mahapurusa Bimaparakrama Hariwangsa Digwijaya. la memerintah di Tarumanagara hingga tahun 483 Saka (561 Masehi).

Prasasti Pasir Muara yang menyebutkan insiden pengembalian pemerintahan kepada Raja Sunda itu dibentuk pada tahun 536 M. Dalam tahun tersebut yang menjadi penguasa Tarumanagara yaitu Suryawarman (535-561 M), Raja Tarumanagara ke-7. Pustaka Jawadwipa, parwa I, sarga 1 (halaman 80 dan 81) menawarkan keterangan bahwa dalam masa pemerintahan Candrawarman (515-535 M), ayah Suryawarman, banyak penguasa kawasan yang mendapatkan kembali kekuasaan pemerintahan atas wilayahnya sebagai hadiah atas kesetiaannya terhadap Tarumanagara. Ditinjau dari segi ini, maka Suryawarman melaksanakan hal yang sama sebagai lanjutan politik ayahnya.

Suryawarman tidak hanya melanjutkan kebijakan politik ayahnya yang menawarkan kepercayaan lebih banyak kepada raja kawasan untuk mengurus pemerintahan sendiri, melainkan juga mengalihkan perhatiannya ke kawasan potongan timur. Dalam tahun 536 M, misalnya, Manikmaya, menantu Suryawarman, mendirikan kerajaan gres di Kendan, kawasan Nagreg antara Bandung dan Limbangan, Garut. Putera tokoh Manikmaya ini tinggal bersama kakeknya di ibukota Tarumangara dan kemudian menjadi Panglima Angkatan Perang Tarumanagara. Perkembangan kawasan timur menjadi lebih berkembang ketika cicit Manikmaya mendirikan Kerajaan Galuh dalam tahun 612 M.

Suryawarman digantikan oleh puteranya, Sang Kretawarman, sebagai Raja Tarumanagara kedelapan, dengan gelar: Sri Maharaja Kretawarman Mahapurusa Hariwangsa Digwijaya Salakabumandala. la, memerintah di Tarumanagara hingga tahun 550 Saka (628 Masehi).

Karena tidak punya keturunan, Kretawarman digantikan oleh adiknya, Sang Sudawarman, sebagai Raja Tarumanagara kesembilan, dengan gelar: Sri Maharaja Sudawarman Mahapurusa Sang Paramartaresi Hariwangsa. Ia memerintah di Tarumanagara hingga tahun 561 Saka (639 Masehi).

Digantikan oleh puteranya, Sang Dewamurti, sebagai Raja Tarumanagara kesepuluh, dengan gelar: Sri Maharaja Dewamurtyatma Hariwangsawarman Digwijaya Bimaparakrama. la memerintah di Tarumanagara hingga tahun 562 Saka (640 Masehi).

Digantikan oleh puteranya, Sang Nagajaya, sebagai Raja Tarumanagara kesebelas, dengan gelar: Sri Maharaja Nagajayawarman Darmasatya Cupujayasatru. la memerintah di Tarumanagara hingga tahun 588 Saka (666 Masehi).

Digantikan oleh puteranya, Sang Linggawarman, sebagai Raja Tarumanagara keduabelas, dengan gelar: Sri Maharaja Linggawarman Atmahariwangsa Panunggalan Tirtabumi. la memerintah di Tarumanagara hingga tahun 591 Saka (669 Masehi).

la digantikan oleh menantunya, Sang Tarusbawa, sebagai penerus tahta Tarumanagara, dengan gelar; Sri Maharaja Tarusbawa Darmawaskita Manumanggalajaya Sundasembawa. Sang Tarusbawa dinobatkan pada tanggal 9 potongan terang bulan Jesta tahun 591 Saka (18 Mei 669 Masehi). Dalam tahun yang sama, menantu Sang Linggawarman lainnya, Dapunta Hyang Sri Jayanasa, dinobatkan sebagai Raja Kerajaan Sriwijaya di Sumatera.

Baca Juga:  7 Cara Masuknya Islam ke Indonesia & Penjelasannya

Sang Tarusbawa bukan keturunan dinasti Warman. Ia dilahirkan di Sunda Sembawa (Sundapura), sebagai raja keturunan pribumi di kerajaan kawasan Sunda Sembawa. Ketika ia naik tahta, mengganti nama Tarumanagara, menjadi Kerajaan Sunda. Peristiwa tersebut berakibat fatal. Wilayah timur Tarumanagara, dengan batas sungai Citarum, memerdekakan diri, menjadi Kerajaan Galuh, di bawah pemerintahan Sang Prabu Wretikandayun.

Mengingat kejayaan Sang Purnawarman, tentu kerajaan bawahannya yang ada di wilayah Banten (Salakanagara, Ujung Kulon, Kosala, dan Rangkas), memegang peranan penting bagi Tarumanagara.

Berita dari China

Berita dari Cina, menyebutkan bahwa seorang pendeta yang berjulukan Fa Hien terdampar di pantai utara Pulau Jawa (414 M) ketika ia hendak kembali dari India ke Negeri asalnya di China. Dalam catatan perjalanan Fa Hien, ia menyebutkan bahwa di kawasan pantai utara Pulau Jawa potongan barat telah ditemukan masyarakat yang mendapat efek Hindu India. Masyarakat yang ditemukan diperkirakan menjadi potongan masyarakat Kerajaan Tarumanegara.

Dalam bukunya yang berjudul Fa Kao Chi, Fa Hien menceritakan bahwa di Ye-po-ti (Jawadwipa) hanya sedikit dijumpai orang-orang yang beragama Budha, yang banyak yaitu orang-orang yang beragama Hindu dan “beragama kotor” (maksudnya animisme).

Ye Po Ti selama ini sering dianggap sebutan Fa Hien untuk Jawadwipa, tetapi ada pendapat lain yang mengajukan bahwa Ye-Po-Ti yaitu Way Seputih di Lampung, di kawasan anutan way seputih (sungai seputih) ini ditemukan bukti-bukti peninggalan kerajaan kuno berupa punden berundak dan lain-lain yang kini terletak di taman purbakala Pugung Raharjo.

Meskipun ketika ini Pugung Raharjo terletak puluhan kilometer dari pantai tetapi tidak jauh dari situs tersebut ditemukan batu-batu karang yangg membuktikan kawasan tersebut dulu yaitu kawasan pantai persis penuturan Fa hien.

Berita Dinasti Sui, menceritakan bahwa tahun 528 dan 535 telah tiba utusan dari To-lo-mo (“Taruma”) yang terletak di sebelah selatan.
Berita Dinasti Tang, juga menceritakan bahwa tahun 666 dan 669 telah tiba utusan dari To-lo-mo.

Dari tiga info di atas para hebat menyimpulkan bahwa istilah To-lo-mo secara fonetis adaptasi kata-katanya sama dengan Tarumanegara.

Maka berdasarkan sumber-sumber yang telah dijelaskan sebelumnya maka mampu diketahui beberapa aspek kehidupan wacana kerajaan Taruma.


Sumber – Sumber Peninggalan Prasasti


Prasasti Ciaruteun

Prasasti Ciaruteun atau dikenal juga sebagai Prasasti Ciampea ditemukan di Sungai Ciaruteun. Prasasti ini memakai huruf Pallawa dan berbahasa Sansekerta, terdiri dari 4 baris yang disusun ke dalam bentuk Sloka dengan metrum Anustubh. Selain itu juga terdapat lukisan keuntungan – keuntungan dan telapak kaki Raja Purnawarman. Bentuk telapak kaki Purnawarman yang ada di Prasasti Ciaruteun mempunyai arti perlambang wilayah kekuasaan dan perlambang penghormatan kepada dewa. Purnawarman diibaratkan sebagai Dewa Wisnu yang merupakan yang kuasa penguasa sekaligus pelindung rakyat.

Prasasti Jambu

Prasasti Jambu atau juga disebut Koleangkak ditemukan di bukit Koleangkak di kawasan perkebunan yang berarak 30 km dari Bogor ke arah barat.Prsasti Jambu memakai huruf Pallawa dan terdapat gambar telapak kaki. Isi dari Prasasti Jambu ialah pemujaan kepada raja Purnawarman.

Prasasti Kebon Kopi

Prasasti Kebon Kopi ditemukan di Muara Hilir, Kecamatan Cibungbulang Bogor. Pada prasasti ini terdapat telapak kaki gajah yang kemudian dikaitkan dengan kaki gajah Airawata atau tunggangan yang kuasa Wisnu.

Prasasti Muara Cianten

Prasasti Muara Cianten ditemukan di Bogor yang ditulis dalam huruf ikal yang belum mampu dibaca. Di prasasti ini juga terdapat lukisan telapak kaki.

Prasasti Pasir Awi

Prasasti Pasir Awi ditemukan di puncak perbukitan Pasir Awi dengan ketinggian 600 mdpl, Bojong Honje- Sukamakmur Bogor.

Prasasti Cidanghiyang

Prasasti Cidanghiyang atau disebut juga Prasasti Lebak ditemukan di wilayah kampung Lebak di tepi sungai Cidanghiyang, Kecamatan Munjul, Kabupaten Pandeglang Banten. Prasasti ini ditemukan pada tahun 1947 dan hanya berisi dua baris kalimat yang ditulis dalam huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta. Isi dari Prasasti Cidanghiyang ialah mengagungkan keberanian raja Purnawarman.

Prasasti Tugu

Prasasti Tugu ditemukan di kawasan Tugu, Kecamatan Cilincing Jakarta Utara. Prasasti ini berisi perintah untuk membangun sungai Gomati dengan panjang 11 km dalam 21 hari. Setelahnya raja Purnawarman menyedekahkan 1.000 ekor sapi kepada kaum brahmana.

Masa Kejayaan

Kerajaan Tarumanegara mencapai masa keemasan pada pemerintahan Purnawarman yang ditandai oleh kekuasaan Tarumanegara yang mencapai seluruh Jawa Barat ketika ini. Selain itu juga diperkuat adanya Prasasti Ciaruteun yang berisi “Ini (bekas) dua kaki, yang mirip kaki Dewa Wisnu ialah kaki Yang Mulia Sang Purnawarman, raja di negeri Taruma, raja yang gagah berani di dunia”.

Pada masa keemasan Tarumanegara ini, perkembangan pesat dalam hal wilayah kekuasaan ditandai oleh dikuasainya kerajaan – kerajaan kecil di sekitar Tarumanegara. Tarumanegara juga membangun Sungai Gomati dan Candrabaga sebagai media irigasi pertanian Tarumanegara. Pada aspek ekonomi ditandai oleh di sedekahkannya 1.000 ekor sapi kepada para brahmana.

Keruntuhan Kerajaan Tarumanegara

Belum diketahui secara pasti kapan runtuhnya Kerajaan Tarumanegara lantaran prasasti – prasasti Tarumanegara lebih banyak membahas wacana pemerintahan Purnawarman. Pemerintahan Tarumanegara sendiri berjalan oleh 12 raja. Raja terakhir dari Tarumanegara ialah Linggawarman yang mempunyai dua puteri,yaitu Manasih yang kelak diperistri Tarusbawa dari Kerajaan Sunda dan Sobakancana yang diperistri Dapuntahyang Sri Jayanasa pendiri dari Sriwijaya.

Tahta Kerajaan Tarumanegara diberikan oleh suami dari Manasih yaitu Tarusbawa. Disinilah final dari kekuasaan Tarumanegara lantaran Tarusbawa lebih menentukan untuk kembali ke Kerajaan Sunda.

Demikianlah ulasan dari Seputarpengetahuan.co.id Tentang Masa Kejayaan Kerajaan Tarumanegara ,semoga bermanfaat.