Megalitikum : Pengertian, Ciri, Sistem Kepercayaan dan Peninggalannya

Megalitikum : Pengertian, Ciri, Sistem Kepercayaan dan Peninggalannya – Apa yang di maksud dengan Megalitikum dan kapan era terjadinya ? Pada kesempatan ini Seputarpengetahuan.co.id akan membahas apakah itu Megalitikum dan hal-hal yang melingkupinya tentangnya.Mari kita simak bersama pembahasannya pada artikel di bawah ini untuk lebih dapat memahaminya.

Megalitikum : Pengertian, Ciri, Sistem Kepercayaan dan Peninggalannya


Megalitikum berasal dari kata mega yang berarti besar, serta lithos yang berarti batu. Era Megalitikum biasa di sebut dengan era batu besar, sebab pada era ini manusia telah bisa membuat serta tingkatkan kebudayaan yang dibuat dengan batu- batu besar. Kebudayaan ini tumbuh dari era Neolitikum hingga era Perunggu. Pada era ini manusia telah memahami keyakinan. Meski keyakinan mereka masih dalam tingkatan dini, ialah keyakinan terhadap roh nenek moyang, Keyakinan ini timbul sebab pengetahuan manusia telah mulai bertambah.


Ciri-Ciri Zaman Megalitikum

  • Manusia telah bisa membuat serta meninggalkan kebudayaan yang dibuat dari batu- batu besar.
  • Tumbuh dari era neolitikum hingga era perunggu.
  • Manusia telah memahami keyakinan utamanya animisme.
  • Sudah mengenali system pembagian kerja.
  • Sudah terdapat pemimpin ataupun kepala suku.
  • Telah menggunakan logam buat dijadikan perlengkapan tiap hari.
  • Telah mempraktikkan sistem food producing ataupun bercocok tanam.
  • Telah terdapat norma- norma yang berlaku.
  • Memakai sistem hokum rimba( primus interpercis) ialah memilah yang terkuat dari yang terkuat.

Sejarah Kebudayaan Megalitikum

Bagi Von Heine Geldern, kebudayaan Megalitikum menyebar ke indonesia lewat 2 gelombang, ialah:

  • Megalithikum Tua menyebar ke Indonesia pada era Neolithikum( 2500- 1500 SM) dibawa oleh pendukung Kebudayaan Kapak Persegi( Proto Melayu). Contoh bangunan Megalithikum merupakan menhir, punden berundak- undak, Arca- arca Statis.
  • Megalithikum Muda menyebar ke Indonesia pada era perunggu( 1000- 100 SM) dibawa oleh pendukung Kebudayaan Dongson( Deutro Melayu). Contoh bangunan megalithnya merupakan peti kubur batu, dolmen, waruga Sarkofagus serta arca- arca dinamis.

Apa yang dinyatakan dalam penjelasan di atas, dibuktikan dengan terdapatnya temuan bangunan batu besar semacam kuburan batu pada era prasejarah, banyak ditemui manik- manik, alat- alat perunggu serta besi. Hasil kebudayaan megalithikum umumnya tidak dikerjakan secara halus, namun cuma diratakan secara agresif serta paling utama cuma buat memperoleh wujud yang dibutuhkan.


Manusia Pendukung Zaman Megalitikum

Ada sebagian jenis manusia pendukung yang hidup di era megalitikum, antara lain bagaikan berikut:

  • Homo Sapiens ini antara lain berasal dari bangsa Proto Melayu, ialah dekat 2000 tahun saat sebelum masehi, yang pula didominasi oleh Suku Nias, Dayak, Sasak, Toraja.
  • Meganthropus paleojavanicus( manusia berdimensi besar)
  • Pithecanthropus( manusia kera), serta dibagi jadi 3 bagian, ialah:
    • Pithecanthropus erectus( manusia kera yang jelannya tegak ataupun tegap)
    • Pithecanthropus mojokertensis( manusia kera yang berasal dari Mojokerto)
    • Pithecanthropus soloensis( manusia kera yang berasal dari Solo)

Peninggalan Zaman Megalitikum

Ada pula sebagian hasil- hasil kebudayaan pada era megalitikum merupakan bagaikan berikut:

Menhir

Menhir terbuat pada era megalitikum dimana warga mulai membangun bangunan ataupun monument yang dibuat dari batu. Sebutan Menhir diambil dari bahasa Keltik dari kata men( batu) serta hir( panjang). Menhir umumnya didirikan secara tunggal ataupun berkelompok sejajar di atas tanah. Diperkirakan barang prasejarah ini didirikan oleh manusia prasejarah buat melambangkan phallus, ialah simbol kesuburan buat bumi. Menhir batu yang seragam dengan dolmen serta cromlech, ialah batuan dari periode megalitikum yang universal ditemui di bermacam negeri semacam Perancis, Inggris, Irlandia, Spanyol serta Italia.

Batu- batu ini dinamakan pula megalith( batu besar) disebabkan ukurannya yang besar. Mega dalam bahasa Yunani maksudnya besar serta lith berarti batu. Para arkeolog mempercayai kalau web ini digunakan buat tujuan religius serta mempunyai arti simbolis bagaikan fasilitas penyembahan arwah nenek moyang. Menhir merupakan bangunan yang berbentuk tugu batu yang didirikan buat upacara menghormati roh nenek moyang, sehingga wujud menhir terdapat yang berdiri tunggal serta terdapat yang berkelompok dan terdapat pula yang terbuat bersama bangunan lain ialah semacam punden berundak- undak. Posisi tempat ditemuinya menhir di Indonesia merupakan Pasemah( Sumatera Selatan), Sulawesi Tengah serta Kalimantan.

Punden Berundak

Punden berundak merupakan salah satu hasil budaya Indonesia pada era megalitik( megalitikum) ataupun era batu besar. Punden berundak ialah bangunan yang tersusun bertingkat serta berperan bagaikan tempat pemujaan terhadap roh nenek moyang.

Punden Berundak pada era megalitik senantiasa bertingkat 3 yang memiliki arti tertentu. Tingkatan awal melambangkan kehidupan dikala masih dikandungan bunda, tingkatan kedua melambangkan kehidupan didunia serta tingkatan ketiga melambangkan kehidupan sehabis wafat. Punden Berundak ini banyak ditemui di Tanah Jawa yang bisa dikenali pada Candi- candi yang tersebar di segala Pulau Jawa.

Dolmen

Dolmen merupakan meja batu tempat meletakkan sesaji yang dipersembahkan kepada roh nenek moyang. Di dasar dolmen umumnya kerap ditemui kubur batu. Dolmen yang ialah tempat pemujaan misalnya ditemui di Telagamukmin, Sumberjaya, Lampung Barat. Dolmen yang memiliki panjang 325 centimeter, lebar 145 centimeter, besar 115 centimeter ini disangga oleh sebagian batu besar serta kecil. Hasil penggalian tidak menampilkan terdapatnya sisa- sisa penguburan.

Benda- benda yang ditemui di antara lain merupakan manik- manik serta gerabah. pada biasanya dolmen banyak ditemui di Jawa Timur serta Sumatera Selatan Dolmen ialah hasil kebudayaan megalitikum, dimana pada era megalit bangunannya senantiasa bersumber pada keyakinan hendak terdapatnya ikatan antara yang hidup serta yang mati terhadap kesejahtraan warga serta kesuburan tumbuhan. Domen ini ialah suatu media ataupun perlengkapan yang dipergunakan buat mengadakan upacara pemujaan terhadap roh nenek moyang.

Adakalanya di dasar dolmen dipakai buat meletakkan mayat, supaya mayat tersebut tidak bisa dimakan oleh hewan buas hingga kaki mejanya diperbanyak hingga mayat tertutup rapat oleh batu. Perihal ini membuktikan jika warga pada masa itu meyakini hendak terdapatnya suatu ikatan antara yang telah wafat dengan yang masih hidup, mereka yakin kalau apabila terjalin ikatan yang baik hendak menciptakan keharmonisan serta keselarasan untuk kedua belah pihak.

Baca Juga:  √ Pengertian Audit Internal, Tujuan, Fungsi dan Ruang Lingkupnya

Sarkofagus

Sarkofagus merupakan peti kubur batu yang terdiri dari wadah serta tutup yang pada ujung- ujungnya ada benjolan. Dari hasil pengamatan di lapangan, penemuan sarkofagus mempunyai bermacam tipe wujud serta jenis dengan wujud serta ornamen yang berbeda. terdapat yang mempunyai motif semacam kepala manusia dengan rambut panjang, terdapat yang berupa kepala manusia mempunyai sanggul, wujud wajah mengerikan, serta seluruh wujud tersebut ada arca laki- laki di dasar dagunya serta arca perempuan di belakangnya.

Dari penemuan ini bisa disimpulkan kalau nenek moyang kita terdahulu sudah meiliki nilai seni yang besar yang bisa menghasilkan suatu yang mempunyai nilai jual besar. Dimensi bangunan kubur batu ini pula bermacam- macam, panjang berkisar antara 148 cm- 307 centimeter, lebar 60 centimeter– 125 centimeter, besar 96 centimeter– 180 centimeter.

Bagi keyakinan warga Bali Sarkofagus mempunyai kekuatan magis ataupun gaib. Bersumber pada komentar para pakar kalau sarkofagus diketahui warga Bali semenjak era logam. Sarkofagus sangat banyak ditemui di wilayah Bali. Sarkofagus semacam pula dolmen merupakan bagaikan peti mayat dari batu. Di dalmnya ditemui tulang- tulang manusia bersama dengan bekal kuburnya periuk- periuk, beliung persegi, perhiasan dari perunggu serta besi. Di Bali sarkofagus dikira bagaikan barang keramat.

Sarkofagus di bali pada umunya berdimensi kecil( antara 80- 140 centimeter) serta terdapat pula sebagian yang berdimensi besar ialah lebih dari 2 m. Bagaikan seseorang periset Soejono sukses membuat klasifikasi serta tipologi sarkofagus- sarkofagus yang ditemui di segala Bali. Bersumber pada penelitiannya yang dicoba semenjak tahun 1960, bisa ditentukan kalau sarkofagus di Bali tumbuh pada masa manusia telah memahami bahan logam, mengingat benda- benda bekal kuburnya yang ada di dalamnya mayoritas terbuat dari perunggu.

Soejono membagi sarkofagus Bali atas 3 jenis, ialah Jenis A, Jenis B, serta Jenis C. Jenis A berdimensi kecil( dengan alterasi 80- 148 centimeter) dan bertonjolan di bagian depan serta dibidang bagian balik wadah serta tutup; jenis B berdimensi lagi( dengan alterasi antara 150- 170 centimeter), tanpa benjolan; jenis C berdimensi besar( dengan alterasi 200- 268 centimeter), bertonjolan di masing- masing bidang wadah serta tutup.

Cocok dengan batas- batas wilayah pertumbuhan masing- masing jenis, oleh Soejono jenis A diucap jenis Bali, jenis B diucap jenis Cacang, serta jenis C diucap jenis Manuaba. Atas dasar pengamatan kalau jenis A ditemui tersebar disebagian besar pulau Bali, jenis B banyak ditemui di wilayah pengunungan Bali Tengah paling utama disekitar Cacang, serta jenis C banyak ditemui di wilayah Manuaba.

Profesor Raden Panji Soejono( lahir 1926) merupakan seseorang arkeolog Indonesia. Ia pensiun bagaikan direktur dari Pusat Riset Arkeologi Nasional( Arkenas) pada tahun 1987. Pada dini karirnya, pada tahun 1956, dia berprofesi bagaikan Kurator Prasejarah di Museum Nasional Indonesia. Ia menerima gelar Extraordinarius Profesor di Universitas Indonesia serta Universitas Gadjah Mada, serta Doktor Onoris Causa di Aix- Marseille University. Pada tahun 1990, dia dianugerahi Chevalier de l’ Ordre des Arts et Lettres.

Kubur Batu

Kubur Batu merupakan peti mati yang dibangun dari 6 papan batu, terdiri dari 2 sisi panjang, 2 sisi lebar, serta suatu lantai. Kubur Batu yang sangat banyak ditemukan

di Indonesia ada di 2 wilayah, ialah Sumba serta Minahasa. Bangunan megalitik di Sumba biasanya berbentuk kubur batu yang dihiasi patung serta relief- relief menarik. Bersumber pada wujudnya tinggalan Kubur Batu di Sumba Barat bisa dibedakan jadi 6 tipe ialah:

  • Watu pawa’ i: Batu kubur besar berbentuk meja batu( dolmen) yang ditopang oleh sebagian batu bundar yang berperan bagaikan kaki ataupun penyangga. Watu pawa’ i terdapat yang berkaki 4, bekaki 6 apalagi terdapat pula yang berkaki banyak. Umumnya jadi kuburan raja- raja serta kalangan bangsawan. Hendak namun watu pawa’ i ini tidak senantiasa jadi kuburan, terdapat pula yang dibentuk cuma bagaikan monumen agung. Yang berperan bagaikan kuburan umumnya dilengkapi batu kubur berdimensi lebih kecil yang ditempat persis di dasar watu pawai.
  • Watu Kuoba: Berbentuk batu utuh yang dipahat membentuk peti dengan lempengan batu lebar bagaikan penutup. Batu tipe ini terdapat yang berhias terdapat pula yang tidak. Pola hiasnya lebih simpel serta terletak pada bagian peti batu. Ko’ ang biasanya dipakai bagaikan kuburan kalangan menengah serta keluarganya.
  • Koro Watu: Batu kubur tipe ini tercipta dari 6 lempengan batu yang disusun jadi peti batu. 1 bagaikan dasar, 1 bagaikan penutup serta 4 yang lain diletakkan di tiap- tiap sisi. Koru Watu umumnya langsung diletakkan di atas tanah tanpa peralatan yang lain.
  • Kurukata: varian lain dari Koro Watu dengan 2 lempeng penutup bagian atas yang ditumpuk jadi satu.
  • Watumanyoba: Wujudnya simpel, cuma berbentuk lempengan batu tanpa kaki yang langsung diletakkan di tanah. Terdapat bermacam- macam model Watumanyoba: lempengan segi 4, persegi panjang, bundar telur serta yang lain. Watumanyoba biasanya digunakan bagaikan kuburan para hamba, sehingga kerap kali ditemui bersisian dengan kuburan para raja.
  • Kaduwatu: Batu tegak lurus( penji) berhiaskan bermacam- macam ukiran. Umumnya ialah pendamping batu kubur lain, paling utama dari tipe Watu Pawa’ i. Berperan bagaikan pernanda arah kepala ataupun kaki sang mayat sekalian bagaikan simbol bangsawan.

Waruga

Kubur Batu Waruga dari wilayah Minahasa pula mempunyai cirri khas tertentu. Waruga berasal dari 2 kata, ialah waru serta ruga. Dalam bahasa Minahasa, waru maksudnya rumah serta ruga maksudnya tubuh. Jadi, waruga berarti rumah tempat tubuh yang hendak kembali ke surga.

Wujud Waruga mayoritas berbentuk kotak batu dengan tutupnya yang berupa segitiga. Mirip bangunan rumah simpel. Cuma sedikit Waruga yang berupa bundar ataupun segi 8. Waruga terbuat dari batu utuh yang besar. Berat suatu Waruga dapat menggapai 100 kilogram sampai 400 kilogram. Sebagian Waruga, paling utama yang berasal dari wilayah Tonsea, diukir dengan foto relief. Foto relief itu menampilkan profesi ataupun pekerjaan orang tersebut semasa hidupnya.

Patung Batu

Patung/ patung- patung dari batu yang berupa fauna ataupun manusia. Wujud fauna yang ditafsirkan merupakan gajah, kerbau, harimau serta moyet. Sebaliknya wujud patung manusia yang ditemui bertabiat dinamis. Artinya, bentuknya manusia dengan penampilan yang dinamis semacam patung batu gajah.

Patung batu gajah merupakan arca besar dengan cerminan seorang yang lagi menunggang fauna yang diburu. Patung tersebut ditemui di wilayah Pasemah( Sumatera Selatan). Daerah- daerah lain bagaikan tempat temuan patung batu antara lain Lampung, Jawa Tengah serta Jawa Timur

Baca Juga:  Jenis Skala : Pengertian Skala pada Peta dan Macamnya

Sistem Kepercayaan Yang Dianut Zaman Megalitikum

Kehidupan Keagamaan Warga Sunda Kuno. Penemuan- penemuan beberapa bangunan masa Megalitikum mengindikasikan kalau rakyat Sunda kuno lumayan religius. Saat sebelum pengaruh Hindu serta Buddha datang di Pulau Jawa, warga Sunda sudah memahami beberapa keyakinan, semacam terhadap leluhur, benda- benda angkasa serta alam semacam matahari, bulan, pepohonan, sungai, serta lain- lain.

Pengenalan terhadap metode bercocok tanam( ladang) serta beternak, membuat warga yakin terhadap kekuatan alam. Buat mengatakan rasa bersyukur atas karunia yang diberikan oleh alam, mereka kemudian melaksanakan upacara ritual yang dipersembahkan untuk alam. Sebab itu, mereka yakin kalau alam beserta isinya mempunyai kekuatan yang tidak dapat dijangkau oleh ide serta benak mereka.

Dalam melakukan ritual ataupun upacara keagamaan, warga prasejarah itu berkumpul di komplek batu- batu besar( megalit) semacam punden- berundak( bangunan bertingkat- tingkat buat pemujaan), menhir( tugu batu bagaikan tempat pemujaan), sarkofagus( bangunan berupa lesung yang menyamai peti mati), dolmen( meja batu buat menyimpan sesaji), ataupun kuburan batu( lempeng batu yang disusun buat mengubur mayat). Bangunan- bangunan dari batu ini banyak ditemui di sejauh daerah Jawa bagian barat. Dibanding dengan daerah Jawa Tengah serta Timur, Jawa Barat sangat banyak meninggalkan bangunan- bangunan megalitik tersebut.

Kehidupan yang serba bergantung kepada alam membuat pola hidup yang bergotong royong. Dalam melaksanakan persembahan/ penyembahan terhadap roh leluhur ataupun kekuatan alam, warga prasejarah ini melaksanakannya secara bersama- sama. Yang mengetuai upacara itu merupakan mereka yang berumur sangat tua ataupun dituakan oleh warga yang bersangkutan.

Pemimpin inilah yang berhak memastikan kapan kegiatan“ sedekah bumi” serta upacara- upacara religius yang lain dicoba. Dialah pula yang dipercayai warga dalam perihal mengusir roh jahat, menyembuhkan orang sakit, serta menghukum warganya yang melanggar nilai ataupun hukum yang diberlakukan.

Pada era megalitikum( era batu besar) di indonesia, manusia purba sudah memahami sesuatu keyakinan terhadap kekuatan gaib ataupun luar biasa diluar kekuatan manusia. Mereka yakin terhadap hal- hal yang menakutkan ataupun serba hebat. Tidak hanya itu mereka menyembah nenek moyangnya.

Kadangkala kala jika memandang tumbuhan besar, besar serta lebat, manusia merasa ngeri. Manusia purba ini setelah itu berkesimpulan kalau kengerian itu diakibatkan tumbuhan itu terdapat mahluk halus yang menghuninya. Demikian juga terhadap batu besar dan fauna besar yang menakutkan.

Kekuatan alam yang besar semacam petir, topan, banjir serta gunung meletus dikira menakutkan serta seram sehingga mereka memujanya. Tidak hanya memuja benda- benda serta fauna yang menakutkan serta dikira gaib, manusia purba pula menyembah arwah leluhurnya.

Mereka yakin kalau roh para nenek moyang mereka tinggal di tempat tertentu ataupun terletak di ketinggian misalnya di atas puncak bukit ataupun puncak tumbuhan yang besar. Buat tempat turunnya roh nenek moyang inilah didirikan bangunan megalitik yang pada biasanya terbuat dari batu inti yang utuh, setelah itu diberi wujud ataupun dipahat. Bangunan megalitik nyaris seluruhnya berdimensi besar.

Penemuan- penemuan beberapa bangunan masa megalitikum mengindikasikan kalau rakyat kuno lumayan religius. Saat sebelum pengaruh hindu serta budha datang di pulau jawa, warga sunda sudah memahami beberapa keyakinan, semacam terhadap leluhur, benda- benda angkasa serta alam semacam matahari, bulan, pepohonan, sungai, serta lain sebagainya.

Pengenalan terhadap metode bercocok tanam( ladang) serta beternak, membuat warga yakin terhadap kekuatan alam. Buat mengatakan rasa syukur atas karunia yang diberikan oleh alam, mereka kemudian melaksanakan upacara ritual yang dipersembahkan untuk alam. Sebab itu, mereka yakin kalau alam beserta isinya mempunyai kekuatan yang tidak dapat dijangkau oleh ide serta benak mereka.

Dalam melakukan ritual ataupun upacara keagamaan, warga prasejarah itu berkumpul di komplek batu- batu besar( megalit) semacam punden- berundak( bangunan bertingkat- tingkat buat pemujaan), menhir( tugu batu bagaikan tempat pemujaan), sarkofagus( bangunan berupa lesung yang menyamai peti mati), dolmen( meja batu buat menyimpan sesaji), ataupun kuburan batu( lempeng batu yang disusun buat mengubur mayat).

Bangunan- bangunan dari batu ini banyak ditemui di sejauh daerah jawa bagian barat. Dibanding dengan daerah jawa tengah serta timur, jawa barat sangat banyak meninggalkan bangunan- bangunan megalitik tersebut.

Kehidupan yang serba bergantung kepada alam membuat pola hidup yang bergotong- royong. Dalam melaksanakan penyembahan terhadap roh leluhur ataupun kekuatan alam, warga prasejarah ini melaksanakannya secara bersama- sama. Yang mengetuai upacara itu merupakan mereka yang berumur sangat tua ataupun dituakan oleh warga yang bersangkutan.

Pemimpin inilah yang berhak memastikan kapan kegiatan“ sedekah bumi” serta upacara- upacara religius yang lain dicoba. Dialah pula yang dipercayai warga dalam perihal mengusir roh jahat, menyembuhkan orang sakit, serta menghukum warganya yang melanggar nilai ataupun hukum yangdiberlakukan.

Sehabis kehadiran orang- orang India, warga sunda kuno mulai terbawa- bawa ajaran- ajaran hindu serta buddha. Temuan beberapa patung serta batu bercorak hindu serta buddha( walaupun terbuat sangat simpel) menunjukkan kalau mereka, paling utama kalangan bangsawan mempercayai serta mempraktikkan ajaran- ajaran agama hindu budha.

Walaupun tidak sering sekali ditemui candi yang bercorak Hindu- Buddha, tidak dipungkiri kalau warga sunda kuno paling utama keluarga raja menganut agama- agama dari india itu, yang setelah itu dipadukan dengan keyakinan nenek- moyang mereka, ialah sunda wiwitan.

Megalitikum : Pengertian, Ciri, Sistem Kepercayaan dan Peninggalannya

Kehidupan Sosial Pada Era Megalitikum

Pada era ini manusia melaksanakan banyak aktivitas yang menyangkut kehidupannya. Mereka telah mepunyai kegiatan semacam mencari serta mengumpulkan santapan, bercocok tanam. Kebudayaan megalithikum adalah

kebudayaan yang menciptakan bangunan- bangunan dari batu besar yang timbul semenjak era Neolithikum. Kehidupan dalam warga masa perundagian memperlihatkan rasa solidaritas yang kokoh. Peranan solidaritas ini tertanam dalam hati tiap orang bagaikan peninggalan yang sudah berlaku semenjak nenek moyang.

Demikianlah ulasan dari Seputarpengetahuan.co.id tentang Megalitikum , semoga dapat menambah wawasan dan pengetahuan kalian. Terimakasih telah berkunjung dan jangan lupa untuk membaca artikel lainnya.