Eritrosit : Pengertian, Ciri, Fungsi, Struktur dan Proses Pembentukan

Eritrosit : Pengertian, Ciri, Fungsi, Struktur dan Proses Pembentukan- Apa sajakah jenis dari energi yang ada ?, Pada kesempatan ini Seputarpengetahuan.co.id akan membahasnya dan tentunya tentang hal lain yang juga melingkupinya.Mari kita simak bersama pembahasannya pada artikel di bawah ini untuk lebih dapat memahaminya.


Eritrosit : Pengertian, Ciri, Fungsi, Struktur dan Proses Pembentukan


Sel darah merah, eritrosit, erythrocyte merupakan jenis sel darah yang paling banyak dan berfungsi mengikat oksigen yang diperlukan untuk oksidasi jaringan-jaringan tubuh lewat darah dalam hewan bertulang belakang. Terdapat kira-kira 5 juta sel darah merah per mm3.

Sel darah merah atau yang juga disebut sebagai eritrosit berasal dari Bahasa Yunani, yaitu erythros berarti merah dan kytos yang berarti selubung/sel)

Bagian dalam eritrosit terdiri dari hemoglobin, sebuah biomolekul yang dapat mengikat oksigen. Hemoglobin akan mengambil oksigen dari paru-paru dan insang, dan oksigen akan dilepaskan saat eritrosit melewati pembuluh kapiler.

Warna merah berasal dari warna hemoglobin yang unsur pembuatnya adalah zat besi. Pada manusia, sel darah merah dibuat di sumsum tulang belakang, lalu membentuk kepingan bikonkaf. Di dalam sel darah merah tidak terdapat nukleus. Sel darah merah sendiri aktif selama 120 hari sebelum akhirnya dihancurkan.

Eritrosit merupakan bagian dari sel darah dengan jumlah terbanyak di dalam tubuh yang produksinya berbeda antara masa janin dengan masa sesudah kelahiran. Dalam beberapa minggu pertama kehidupan embrio, sel darah merah primitif yang berinti di produksi di yolk sac.

Lalu memasuki pertengahan trimester masa gestasi, produksi eritrosit diambil alih oleh hati (organ utama produksi eritrosit), limpa dan kelenjar limfe. Setelah itu, kira-kira selama sebulan terakhir kehamilan dan sesudah lahir, eritrosit hanya diproduksi di sumsum tulang.

Kepingan eritrosit manusia memiliki diameter sekitar 6-8 μm dan ketebalan 2 μm, lebih kecil daripada sel-sel lainnya yang terdapat pada tubuh manusia.Eritrosit normal memiliki volume sekitar 9 fL (9 femtoliter) Sekitar sepertiga dari volume diisi oleh hemoglobin, total dari 270 juta molekul hemoglobin, di mana setiap molekul membawa 4 gugus heme.

Orang dewasa memiliki 2–3 × 1013 eritrosit setiap waktu (wanita memiliki 4-5 juta eritrosit per mikroliter darah dan pria memiliki 5-6 juta. Sedangkan orang yang tinggal di dataran tinggi yang memiliki kadar oksigen yang rendah maka cenderung untuk memiliki sel darah merah yang lebih banyak).

Eritrosit terkandung di darah dalam jumlah yang tinggi dibandingkan dengan partikel darah yang lain, seperti misalnya sel darah putih yang hanya memiliki sekitar 4000-11000 sel darah putih dan platelet yang hanya memiliki 150000-400000 di setiap mikroliter dalam darah manusia.

Pada manusia, hemoglobin dalam sel darah merah mempunyai peran untuk mengantarkan lebih dari 98% oksigen ke seluruh tubuh, sedangkan sisanya terlarut dalam plasma darah.Eritrosit dalam tubuh manusia menyimpan sekitar 2.5 gram besi, mewakili sekitar 65% kandungan besi di dalam tubuh manusia.

Baca Juga:  Jaringan Lemak : Fungsi, Karakteristik, Komposisi dan Klasifikasi

Ciri Ciri Eritrosit

  • Mempunyai rupa yaitu bulat pipih yang di bagian tengahnya cekung atau bikonkaf
  • Tidak mempunyai inti sel
  • Mempunyai warna merah karena mengandung hemoglobin
  • Umur sel darah merah kurang lebih 120 hari
  • Sel darah merah mempunyai jumlah 4-5 juta sel/mm3 darah
  • Sel darah merah mempunyai diameter 7-8 um dan ketebalan 1-2 um
  • Sel darah merah mempunyai sifat elastic

Fungsi Eritrosit

  • Mengalurkan atau menyebarkan darah yang banyak mengandung oksigen (O2) dari paru-paru ke semua jaringan tubuh.
  • Sebagai dapar asam basa yang baik untuk seluruh darah
  • Eritrosit memiliki kandungan enzim karbonik anhidrase, yakni enzim yang memiliki fungsi sebagai peningkat kecepatan dalam mengatalisis reaksi reversibel antara karbondioksida (CO2) dan air (H2O) untuk membuat asam karbohidrat (H2CO3) dengan beribu kali lipat.
  • Hemoglobin (Hb) sebagai substansi eritrosit mempunyai peranan dalam penangkal patogen atau bakteri melalui proses lisis dengan mengeluarkan radikal bebas yang dapat meleburkan membran sel patogen dan membuhuh bakteri. Untuk itu, dapat disebut eritrosit memiliki peranan dalam menjaga sistem kekebalan tubuh (antibodi)
  • Eritrosit memiliki peranan dalam melebarkan pembuluh darah. Mekanisme tersebut dapat terjadi disebabkan terdapat senyawa S-Nitthrosothiol yang dilepaskan ketika Hemoglobin (Hb) mengalami deogsigenerasi.

Struktur Eritrosit

Struktur sel darah merah (eritrosit) norma yakni tidak mempunyai inti dan bentuknya lempeng bikonkaf dengan garis tengah sekitar 7-8 mikrometer dan tebalnya 2,5 mikrometer, sedangkan dibagian yang sangat tebal dan sekitar 1 mikrometer di bagian tengahnya.

Bentuk sel darah merah dapat berubah-ubah ketika sel melewati kapiler, tetapi perubahan bentuk itu tidak akan membuat sel mengalami ruptur.

Hal tersebut dikarenakan dalam kondisi norma, sel darah merah mempunyai kelebihan membran sel untuk menampung zat didalamnya menjadikan tidak akan meregangkan membran secara hebat.

Dalam sel darah merah (eritrosit) ada hemogrobin (Hb), substansi hemoglobin (Hb) tersebut yang membuat warna merah pada darah.

Jumlah rata-rata sel darah merah pada setiap orang adalah 90-95 mikrometer kubik, sedangkan jumlah sel darah merah sangat tergantung dari jenis kelamin dan dataran tempat tingagl seseorang.

Pada pria normal, volume rata-rata sel darah merah per mikrometer kubik adalah 5.200.000 (±300.000) dan di wanita normal 4.700.000 (±300.000). Orang yang tinggal pada dataran tinggi mempunyai jumlah sel darah merah yang lebih besar daripada dengan orang yang tinggal pada dataran rendah.

Eritrosit : Pengertian, Ciri, Fungsi, Struktur dan Proses Pembentukan


Proses Pembentukan Eritrosit

Proses pembentukan eritrosit disebut juga eritropoiesis. Pembentukan eritrosit diregulasi oleh suatu hormon glikoprotein yang disebut eritropoietin. Sel Pertama yang dikenali sebagai rangkaian pembentukan eritrosit ialah proeritroblas, yang dibentuk dari sel-sel stem CFU-E.

Baca Juga:  √ Pengertian Pons Otak, Struktur, Bagian dan Fungsinya (Lengkap)

Begitu sel proeritroblas terbentuk, sel tersebut akan membelah beberapa kali. Sel-sel baru dari generasi pertama pembelahan tersebut disebut sebagai basofil eritroblas karena dapat di cat dengan warna basa. Sel ini mengandung sedikit sekali hemoglobin.

Pada pembelahan tahap selanjutnya, jumlah hb yang terbentuk lebih banyak dari sebelumnya. Sel yang terbentuk pada tahap tersebut disebut polikromatofil eritroblas. Pata tahap selanjutnya, jumlah Hb yang dibentuk akan semakin banya dan sudah memberikan warna merah pada sel.

Sel tersebut dikenal sebagai ortokromatik eritroblas. Pada generasi berikutnya, sel sudah dipenuhi oleh Hb samapi konsentrasi 34%, nukleus memadat menjadi kecil, dan sisa akhirnya diabsorbsi dan didorong keluar dari sel. Pada saat yang bersamaan retikulum endoplasma direabsorpsi.

Sel pada tahap ini disebut retikulosit, karena masih mengandung sejumlah kecil materi basofilik yang terdiri dari sisa-sisa aparatus golgi, mitokondria, dan sedikit organel sitoplasma lainnya.

Selama tahap retikulosit, sel-sel akan berjalan dari sumsum tulang masuk ke dalam kapiler dengan cara diapedesis (terperas melalui pori-pori membran kapiler).

Materi basofilik yang tersisa dalam retikulosit normalnya akan menghilang dalam waktu 1 sampai 2 hari, dan kemudian menjadi eritrosit matur. Karena waktu hidup retikulosit ini pendek, maka konsentrasinya diantara semua sel darah normalnya sedikit kurang dari 1 persen.

Apabila eritrosit telah berada dalam sirkulasi, maka dalam keadaan normal umur sel darah merah yakni kurang lebih hanya 120 hari.

Sel darah merah yang telah tua menjadi lebih rapuh dan dapat pecah dalam perjalanannya melalui pembuluh darah yang sempit.

Sebagian eritrosit akan pecah di dalam limpa karena terjepit sewaktu melewati pulpa merah limpa dan sebagiannta lagi akan dibongkar di hati.

Hb yang terlepas dari eritrosit akan difagositosis dan dicernakan oleh sel-sel makrofag terutama yang terdapat dalam limpa, hati dan sumsum tulang. Kemudian di hati, hb diubah menjadi zat warna empedu (bilirubin) yang akan ditampung dalam kantong empedu.

Bilirubin ini berfungsi memberi warna pada feses. Zat besi yang ada pada hb diangkut kemudian dilepas dan diangkut kedalam sumsum tulang untuk digunakan dalam pembentukan sel darah merah baru atau disimpan di hati dan jaringan lain dalam bentuk ferritin.

Dalam tahapan pembentukan eritrosit, kadar O2 di udara, hormon eritopoietin, protein, cobalt (Co), tembaga (Cu), besi (Fe) dan vitamin B12 penting diperhatikan karena merupakan faktor yang dapat mempengaruhi proses tersebut.

Demikianlah ulasan dari Seputarpengetahuan.co.id tentang Eritrosit : Pengertian, Ciri, Fungsi, Struktur dan Proses Pembentukan, semoga dapat menambah wawasan dan pengetahuan kalian. Terimakasih telah berkunjung dan jangan lupa untuk membaca artikel lainnya.